Ganbatte…

Mendapat SMS dari seorang teman yang mengingatkan aku untuk lebih berhati-hati dalam mengutarakan pendapat.  Aku termenung. Berpikir. Hm… ya, aku salah memahami masalah.  Baiklah maafkan aku wahai teman!!! Gomen nasai…

Setelah kupahami lagi memang ada yang bertindak sewenang-wenang di sini. Memang, tidak semua orang yang berhak itu pantas, juga tidak semua orang yang pantas itu berhak. Dan perlakuan itu sangat biasa di dunia. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya.

Jangan hanya berpikir secara sederhana, gw udah bayar, gw berhak donk dapet pelayanan. Karena banyak sekali unsur dari pelayanan tersebut. Renungkan lagi. Apa memang ia, letak kesalahannya ada pada lembaga?

Berpikir sederhana itu baik karena memang itu membuat kita bergerak tanpa pamrih. Tapi, hal yang konyol ketika kita menyederhanakan sesuatu yang memang kompleks. Yang kompleks jangan disederhanakan namun diuraikan. 2 hal ini berbeda.

Hal yang mengesalkan jika memang kita diperlakukan secara sewenang-wenang oleh yang mempunyai kekuasaan. Di sinilah dibutuhkan sebuah ruang bernama keikhlasan ketika kita diperlakukan secara sewenang-wenang.

Ikhlas, bukan berarti tidak melawan. Selagi kita bisa melawan, lakukanlah perlawanan.  Tentu saja perlawanan yang cerdas. Disinilah ruang bernama keikhlasan itu berfungsi. Renungkan apa yang sedang terjadi. Benarkah hanya sederhana saja, atau memang banyak hal yang bersinggungan dengan hal itu.

Memang ada orang-orang yang diberi legitimasi untuk menentukan kebenaran dalam bidangnya. Dan terkadang orang itu berbeda pendapat dengaan kita. Mungkin karena kita yang memang salah. Atau juga orang tersebut yang sebenernya tidak berkompetensi. Lagi-lagi disini ruang keikhlasan berfungsi.

Sekali lagi, ikhlas bukan berarti tidak melawan. Ketika kita tahu masalahnya secara keseluruhan. Kita akan tahu strategi terbaik dalam menghadapi “penindasan” tersebut. Perlawanan, selain membutuhkan totalitas juga membutuhkan kesinambungan.

Terkadang kita hanya totalitas, habis-habisan. Tapi setelah itu memang habis. Seandainya itu diiringi dengan kesinambungan, pengontrolan yang terus-menerus pasti  hasilnya akan berbeda.

Satu hal lagi, kita juga harus melihat-lihat keadaan lingkungan. Apakah lingkungan kita sudah cukup dewasa atau tidak, kalau belum, jangan main-main dalam provokasi massa. Yang berada pada pikiran setiap manusia adalah berbeda. Kalau memang keadaannya tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan secara massal, lebih baik lakukan dulu perlawanan secara individu.

Bagaimana caranya? Tanyakan pada hatii nuranimu sendiri. Diam. Renungkan.

 

Aku tidak hanya tidak mau ditindas dan menindas tapi juga tidak setuju akan adanya penindasan.

One thought on “Ganbatte…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s