Menulis

Sejarah manusia bergulir setelah manusia mampu mengenal tulisan. Karena mulai sejak saat itulah semua yang terjadi dapat terdokumentasikan. Maka dari itu terbentuklah sebuah sistem nilai bahwa komunitas dalam ukuran apapun bisa dikatakan mempunyai peradaban jika komunitas tersebut telah mengenal tulisan.

Setiap orang pasti pernah menulis. Menulis yang saya maksud di sini adalah melahirkan pikiran atau perasaan (spt mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Baik itu secara terpaksa semisal ujian, atau memang suka menulis.

Ada banyak alasan untuk menulis. Saya pribadi mempunyai beberapa alasan.

Pertama. Kita dapat membuat dunia kita sendiri dengan tulisan kita. Mengadakan hal-hal yang kita inginkan ada, awal secara logika kita yang terbatas ini, hal itu tidak mungkin ada. Bahkan kita bebas menciptakan dunia sendiri. Menciptakan tokoh, komunitas dan sistem nilai yang kita inginkan. Kita sudah menjadi pencipta boy.

Terkadang memang ini yang menjadikan sebuah tulisan menjadi kontroversi di dunia nyata. Karena belum semua orang bisa menerima bahwa para penulis berhak melakukan apapun dengan tulisannya. Membangun dunianya sendiri. Menentukan nasib tokoh yang dibuatnya. Untuk kepentingannya menyampaikan maksud yang diinginkan.

Kedua. Dalam tulisan kita dapat memperhalus pesan yang kasar dengan idiom-idiom tertentu yang tidak mungkin dilakukan oleh komunikasi audio. Mematikan tokoh atau pembuktian pemikiran kita dalam peristiwa yang dialami tokoh.

Ketika di tokoh diperlakukan tidak adil sedemikian rupa oleh tokoh lainnya. Penulis yang handal bisa membawa kita sampai pada tidak suka pada pemikiran-pemikiran yang dimiliki oleh tokoh antagonis dalam tulisannya dan membuat kita setuju dengan pemikiran-pemikiran tokoh protagonisnya. Hal ini masuk ke dalam diri sang pembaca tanpa sadar.

Karena itulah sastra/tulisan menjadi bagian yang penting dalam perkembangan peradaban manusia. Sastra/tulisan merupakan salah satu bagian dari produk budaya dan dapat menjadi gambaran keadaan suatu komunitas dalam ukuran apapun.

Ketiga.Ketika kita menulis kita dapat berlatih untuk berpikir kompleks dan sistematis. Sebuah alur cerita membutuhkan logikalisasi yang menyeluruh menyangkut seluruh aspek kehidupan. Dan kita dipaksa untuk menyajikannya secara sistematis agar pembaca bisa mengerti apa pesan/ide yang ingin kita sampaikan.

Keemmpat. Tulisan saya analogikan sebagai ilalang berspora. Ilalang tidak pernah dipelihara. Bahkan cenderung diberangus keberadaannya. Namun, dengan kemampuannya bertahan hidup dan berkembang biak, dia tetap ada dimanapun, tidak punah. Walau induknya mungkin telah mati. Tapi sporanya telah menyebar dan tumbuh di tempat lain. Kembali menghasilkan spora dan terus seperti itu.

Tulisan akan tetap abadi walau sang penulis ada dalam penjara. Walau penulis sudah tidak lagi di alam nyata. Maka menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Tidak hanya masalah honor ketika tulisan dipakai industri. Namun, masalah terjaganya keabadian ide dalam tulisan.

Jadi? Ayo kita menulis… Untuk membangun peradaban yang kita inginkan… Mungkin hari ini adalah khayalan… kita perlu berusaha untuk menjadikannya mimpi yang mungkin terwujud… dan pada akhirnya impian itulah kenyataannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s