Dewasa

Nilai Alstrukdat keluar. Berikut dengan penjelasan dari pak dosennya. Tentang cara mengajar beliau yang seperti itu. Tentang mata kuliahnya yang relatif tidak terasa gunanya. Padahal itu semua adalah masalah kualitas diri kita yang memang belum bisa melihat kegunaan dari mata kuliah tersebut. Jadi sabar dululah. Di dunia ini tidak ada yang instan.

Saya merasa dosen saya ini adalah salah satu dosen yang tidak hanya mengajar tapi juga mendidik tanpa mengurangi sedikitpun aspek pengajarannya. Karena memang seorang pendidik tidak bisa terlepas dari posisinya secara fungsional. Mahasiswa butuh mata kuliah. Karena itu mahasiswa kuliah.

Terkadang ada yang hanya merasa menjadi pendidik. Akhirnya yang diajarin kagak nyampe. Alah, cape deh!!! Gw kuliah itu buat dapet tuh mata kuliah ya… tolong!!!

Tapi yang lebih sering adalah yang merasa hanya menjadi pengajar. Cuman nyerocos tentang mata kuliah. Pokoknya… bla-bla-bla… kalian kerjain latihan, UTS-UAS bisa. BERES. Hoho…. Menyedihkan sekali…

Pantas saja negeri ini penuh dengan koruptor. Semuanya ingin instan, tidak melewati  proses. Semuanya ingin jadi ukiran indah, tanpa mau merasakan sakitnya dipahat.

Ini memang bukan hal yang mudah. Namun, percayalah kalau kita mau berusaha sedikit saja. Kita mampu.

Hm…

Terkadang kita merasa sudah cukup berhak untuk tahu banyak hal. Memang kita berhak untuk itu. Hanya saja, semuanya butuh proses pendewasaan. Dan seseorang yang sudah merasa cukup tidak akan pernah menjadi dewasa.

Hal yang baik ketika kita tahu apa yang kita tahu. Namun hal yang lebih perlu lagi adalah kita tahu apa yang kita tidak tahu. Dan merasa untuk tahu hal yang tidak kita ketahui itu.

Terkadang kita hanya tahu apa yang kita tahu. Dan kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu. Akhirnya merasa diri paling benar. Dan beranggapan orang lain salah. Apalagi kalau orangnya udah ngaku salah. Makin ngerasa bener aja deh kita. Ketahuilah… itu adalah tanda bahwa kita tidak dewasa.

Yang saya saluti dari dosen saya ini…

Beliau mengemukakan semua perilaku (yang dalam pemikiran saya) mendidiknya. Kenapa dia bersikap seperti ini dan seperti itu. Apa tujuannya beliau melakukan semuanya.

Sesuatu yang saya lagi-lagi bisa pelajari dari beliau adalah… kejujuran. Kejujuran terhadap diri sendiri yang terintegrasi dalam sebuah pengakuan tentang kekurangan diri. Hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang-orang sudah merasa punya legitimasi untuk menyatakan nilai kebenaran. Dan secara fungsional beliau memang berhak menyatakan nilai kebenaran dalam mata kuliah alstrukdat.

Beliau juga memberi tahu saya. Bahwa betapa pentingnya komunikasi agar perilaku kita tidak disalahpahami. Kesalahpahaman yang membuat perilaku mendidik dinilai sebagai sesuatu yang sewenang-wenang.

Yaps. Kedewasaan membutuhkan kejujuran. Kejujuran dalam menilai diri sendiri. Kerendahan hati dalam berkomunikasi juga sangat diperlukan dalam menyampaikan sesuatu. Ini juga dapat menjadi ukuran kedewasaan kita dalam menjalani proses pendidikan tersebut. Semua berproses dan tidak ada yang instan di dunia ini.

 

for my Alstrukdat lecturer… Thank you…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s