Sistem Informasi dan Suara Hati

Pilihan 1 :

Seperti biasa. Sistem informasinya. Lama-lama aku lelah dengan caranya mencitra. Terlalu melihat dari 1 sisi saja. Tapi kini ada hal yang bisa kupelajari disini. Ini dipublikasikan secara nyata di TV. Tidak perlu saya tutupi lagi nama-nama ini.

Ada sebuah pertanyaan : “ Yang disangkut pautkan dengan Gayus kan Group Bakrie. Apa pentingnya buat Golkar?”

Sebuah pertanyaan yang sangat menantang. Jelas-jelas ngajak perang. Hoho…

Yang kusuka adalah bagaimana Bambang Soesatyo menanggapinya. Tak memberikan reaksi yang berlebihan. Tenang. Seakan ini hanya pertanyaan yang mempertanyakan. “ Bagaimana aktivitas Anda hari ini?” Hanya pertanyaan santai saja. Haha…

Mungkin menjadi politikus itu haruslah tidak berperasaan. Tidak boleh mudah tersinggung. Apalagi sering mengeluh dan menangis. Hm…

Pilihan 2 :

Bahasannya sungguh berbeda. Tentu saja. Suka sekali dalam menyajikan beritanya. Terkesan berimbang. Walau tidak. Namun, lembut dcan meluaskan wawasanku. Walau terkadang hanya berputar pada debat-debat kusir bertanya ayam dan telur apa yang lebih dulu.

Yang jadi bahasan hari ini adalah Yogyakarta. 1-1nya keraton di Indonesia yang masih berdaulat. Sebagai pemerintah. Bukan hanya pimpinan budaya. Ketika sejarah dan konstitusi dipertentangkan. Keraton dan Sultan dianggap bertentangan dengan konstitusi. Karena kepala daerah haruslah dipilih langsung oleh rakyat. Selain itu pastilah banyak hal administrative yang sulit diselaraskan dengan  reformasi birokrasi kali ini. Memang menyulitkan.

Tapi, bukankah memang itu keistimewaan Yogyakarta? Dan rakyat Yogyakarta masih menginginkan keadaan itu. Jadi untuk apa diubah? Ah, ini hanya pandangan seorang rakyat kecil saja baginda.

Hm… dari sudut pandang konstitusi yang tidak aku mengerti. Mungkin ada benarnya. Keberadaannya memang bertentangan dengan konstitusi. Tapi apakah tahu, bahwa keraton itu punya makna sejarah yang tinggi. SImbolisasi penghargaan bangsa ini terhadap budayanya. Identitasnya. Berbeda, jika sudah hal yang lebih baik yang bisa menggantinya. Islam, ajaran paling sempurna di muka bumi ini. Konstitusi? Bukankah itu bisa diubah. Mengenai birokrasi bukankah itu bisa ditata kembali. Entahlah. Hamba tak mengerti juga baginda. Hamba hanya ingin, simbol sejarah itu tetap eksis dengan kedaulatannya.

Baiklah. Kita lihat manusia-manusia setengah dewa itu membuat hukum. Pastilah tidak sempurna. Tak seperti hukum yang dibuat olehNya. Masihkah mereka menghargai sejarah-budaya bangsanya? Atau hanya mementingkan ego kelompoknya saja.

Kami memang orang bodoh wahai baginda. Tapi karena suara kami lah kau bisa seakan-akan lebih dari kami.

Maafkan hamba baginda… apabila ada kata yang membuat baginda tersinggung… sungguh… hamba hanya ingin berkata apa yang ada dalam pikiran….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s