Bahasa dan Sejarah

Pagi ini… tanpa sengaja kulihat sebuah acara di sebuah stasiun TV. Acara yang menyeleksi 100 orang untuk menjadi 1 orang yang akan bermain dibabak bonus yang menawarkan hadiah sejumlah uang yang tidak sedikit.

 

Ada yang menarik. Pada pertanyaan ke sekian (ada kemungkinan ini adalah pertanyaan pertama, karena saya tidak melihat ada tempat yang kosong, artinya belum ada orang yang salah menjawab pertanyaan) : Kata Sirsak adalah serapan dari kata Zurzak yang berarti (poho uy artina naon). Pertanyaannya : Darimana bahasa mana kata tersebut berasal, dari Bahasa Jerman atau Belanda.

 

Hm… Kedua bahasa ini memang memiliki struktur bahasa yang mirip. Sebagaimana bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Sehingga wajar jika banyak yang bingung apakah kata itu berasal dari bahasa Jerman atau bahasa Belanda.

 

TAPI… hal yang RADA ANEH ketika kita meresapi pelajaran sejarah Indonesia yang selama ini kita pelajari dari kelas 4 SD sampai kelas 1 SMA dan tidak bisa MENEBAK dengan LOGIKA FEELING kita. Indonesia dijajah selama 3,5 abad oleh Belanda. Selama itu pastilah banyak kebudayaan mereka yang masuk pada kebudayaan kita. Dan salah satu unsur dari kebudayaan adalah BAHASA. Dan bahasa Melayu Riau (induk bahasa Indonesia) yang memang miskin kosakata istilah akhirnya memang banyak menyerap bahasa istilah dari bahasa lain. Terutama Belanda dan kini banyak adalah bahasa Inggris akibat pengaruh globalisasi. Bahasa dan budaya memang akan sangat dipengaruhi oleh siapa yng berkuasa. Walau kekuasaan bukan jaminan dari kepengaruhan.

 

(Walau bahasa melayu miskin kosakata istilah, namun kaya akan bahasa kiasan. Yang terkadang hanya kalangan tertentu yang mengerti arti bahasa kiasan tersebut. Hanya intermezo…)

 

Sebagaimana kata Kulkas (yang masih bertahan), kata tradisionil (yang sekarang berubah menjadi tradisional atas pengaruh bahasa Inggris) juga masih banyak kata-kata lainnya.

 

Dari analisis ini tanpa ragu pasti kita akan memilih Belanda. Tapi apakah yang terjadi? Yang tersisa pada pertanyaan itu hanya 30 orang. Huff!!! Ada sebuah perasaan sedih dihati.

 

Kenapa? Karena itu berarti hanya 30 orang yang berhasil menebaknya dengan LOGIKA FEELINGnya. Tapi pengaruh kebudayaan Jerman memang lebih terasa saat ini dari pada budaya Belanda. Pamor negeri Belanda yang memang tidak begitu bagus saat ini. Dan apalah negara itu, hanya kecil, walau punya teknologi luar biasa. Sekarang kiblat budaya memang lebih pada Jerman daripada Belanda. Orang Indonesia sekarang lebih banyak memilih untuk belajar dan bekerja di Jerman daripada Belanda.

 

Apakah ini adalah gejala bahwa bangsa Indonesia lupa akan sejarah? Apakah pelajaran yang dipelajari selama minimal 7 tahun itu tidak pernah mereka resapi?

 

Bagaimana dengan pemuda Indonesia? Akankah saya dengar dialog seperti ini?

“Tau nggak? Besok band anu dari negara anu konser di Indonesia lo…”

“Oh ya?”

“Iya donk…. aku mau nonton lah pokoknya.”

“Hm… kamu tahu nggak hari ini tanggal berapa hayo?”

“Tanggal 28 Oktober. Emang kenapa?”

“Yakin, kamu nggak tahu?”

“Emang ada apa?”

“Nggak. Nggak da apa-apa kok? Kucing aku baru melahirkan di rumah.”

hanya terdiam dengan ekspresi sedih.

 

Kultur… oh Kultur…

2 thoughts on “Bahasa dan Sejarah

    • itu bakat alami teh…
      kadang-kadang saya tersiksa dengan hal ini… karena seringkali malah menyesatkan buat jadi negatif thinking… walau nggak jarang terbukti kebenarannya…
      susah untuk dikendalikan…
      makanya… aku akan memposisikan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa aja… hihihi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s