Batagor

Hari ini… sama seperti hari yang biasanya… tak ada waktu untuk makan siang. Akhirnya yang kubeli hanyalah batagor depan MSU 2000an atau kalau lagi laper 3000an. Kenapa saya pilih batagor? Karena batagornya itu enak tapi murah. Ikannya kerasa tapi murah dan ngenyangin. Murah banget dah pokoknya.

Hari itu entah mengapa aku ingin sekali bertanya, dan akhirnya pun aku bertanya…

“Pak, ini adonannya apa aja?”

berhubung… kata K Demsy pun saya ini short therm memory… alias pelupa karena yang dipakenya RAM bukan ROM… saya lupa bapaknya jawab apa aja… yang saya inget si bapak itu bilang kalau ikannya Ikan Tenggiri.

Pertanyaan pun berlanjut…

“Sehari bikin berapa porsi pak?”

“Ya… tergantung hari dan bahan yang tersedia di pasar neng. Di Bandung kan jarang ikan. Ya… antara 4-5 kg adonan ini. Perbadingannya Tenggiri : terigu : Aci nya 2:2:1 neng.”

(sebenernya saya lupa perbandingannya…)

“Untungnya berapa pak?”

“Ah neng… palingan oge 50 sampe ya… 100 neng paling banyak juga. Beda-beda lah neng.”

Aku lumayan terkejut mendengar pernyataannya. Kupikir, pedagang yang selalu ramai dan dagangannya selalu laris itu setidaknya mendapat untung 150 ribu per hari. Tapi ini, 100 saja jarang. Dan 50 ribu. Bisakah hidup dengan uang segitu 1 keluarga? Ah, saya saja maka kira-kira 20 sehari. Itu juga kalau di hemat-hemat. Apakah cukup untuk sekolah anaknya?

“Hm… pak… ku naon teu dinaekan atuh pak? Da, saya mah yakin da, kalau pun bapak naikin tarif, porsi per batagornya gedein dikit, bapak bakal tetap laku. Asal rasanya jangan berubah.”

Dari mata kuliah manajemen kemarin saya tahu kalau kita bisa menaikan laba dengan menaikan harga jual tapi tanpa lupa meningkatkan kualitas.

“Ah Neng… bapak mah nggak ngertilah yang begituan. Nggak mau ambil resiko. Lagian bapak mah hidup gini aja udah cukup kok.”

NGEH! ini dia yang harus diubah dari mind set orang Indonesia. Udahlah… hidup jangan neko-neko.

Bayangkan kalau Soekarno-Hatta juga berpikir seperti itu? Bayangkan jika para pemuda yang menculik Soekarno-Hatta ke Rengadengklok itu berpikir dengan cara begitu semuanya? Akankah Indonesia merdeka?

“Nggak kepikiran buat bikin kios aja pak?”

Logikaku. Kalau bapak ini punya tempat yang lebih nyaman. Dia bisa mematok harga batagornya lebih tinggi.

“ah, buat apa neng? Toh, harga batagornya nggak bisa naik.”

Baiklah… si bapak itu berputar-putar di situ… tapi ternyata ada lanjutannya…

“Lagian yah neng. Saya juga tahulah. Mahasiswa teh sama-sama orang susah kayak saya. Da salah satu tujuan saya teh buat nyediain makanan murah dan enak buat mahasiswa (masalah bergizi, hm… sepertinya beliau tidak begitu mengerti). Biar mereka teh belajar yang bener. Ya… siapa tahu aja nanti mereka ada yang jadi menteri atau pejabat. Waktu bikin keputusan nanti inget sama saya. Rakyat kecil yang emang cuma gini-gini aja.”

Jawabannya yang ini… JLEB… walau dia menyampaikannya dengan segala kepolosannya.

Bagaimana dengan saya? Pernahkah saya pikirkan, apakah dia untung atau rugi hari ini? Jadi berpikir, jangan-jangan beliau ini jauh lebih pantas jadi  menteri, daripada saya yang seorang mahasiswa, calon sarjana teknik. Bahkan ketika bertanya sekarang pun, apa niatku? Apakah ada niat untuk benar-benar peduli padanya dan bukan hanya sekedar iseng beramah tamah saja?

Hm…

biarkan aku terus menulis meski penaku sempat sedikit patah…

ku tak mau seorangpun merayu… tidak juga kau…

semoga ikan tenggiri nggak tersinggung… maaf ya ikan tenggiri…

2 thoughts on “Batagor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s