Syukur…

Syukur…

Sebuah kata yang begitu mudah terucap…

tapi hati sangatlah sulit tuk benar-benar berazam…

Ada sebuah kisah yang terinspirasi dari buku Salim A. Fillah. Dalam Dekapan Ukhuwah. Sedikit berbeda. Namun mempunyai maksud yang sama. Ini tentang rasa dan pemaknaan.

Ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Orang-orang sangatlah mengasihani dang pemuda. Wajahnya sungguh buruk. Luka jahitan dimana-mana, membuatnya jadi sangat menakutkan. Padahal dia punya perangai yang sangat baik. Orang-orang sering kali mencemoohnya. Sungguh tak tahu hatinya terbuat dari apa. Dia hanya tersenyum lalu berdoa…

“Ya Allah… aku tak tahu ini anugerah atau musibah. Aku hanya berprasangka baik padaMu…”

Karena kesabarannya itu, akhirnya anak seorang bangsawan negeri tersebut jatuh hati padanya. Singkat cerita, mereka menikah. Dan ketika itu yang dia katakan adalah…

“Ya Allah… aku tak tahu ini anugerah atau musibah. Aku hanya berprasangka baik padaMu…”

Namun, karena pemuda itu terlalu sabar. Sang istri pun akhirnya meminta cerai. Bukan karena keburukrupaannya, tapi karena sang istri khawatir cintanya pada suaminya akan lebih besar daripada cintanya pada Allah. lagi-lagi yang dikatakannya adalah…

“Ya Allah… aku tak tahu ini anugerah atau musibah. Aku hanya berprasangka baik padaMu…”

hm…

bila kita terus membahas kisah dang pemuda tadi, pastilah kita tidak akan ada habisnya mendengar dia berkata…

“Ya Allah… aku tak tahu ini anugerah atau musibah. Aku hanya berprasangka baik padaMu…”

Syukur dan Sabar adalah satu paket sikap yang tidak dapat kita pisahkan. Karena sabar adalah sebuah sikap syukur dalam keadaan (yang menurut kita) buruk. Dan syukur adalah sebuah sikap sabar dalam keadaan (yang menurut kita) baik. Karena hidup menuju pada satu titik yang pasti. Sebuah perjalanan yang harus dilalui memang tetaplah itu. Namun, ada yang bisa mengumpulkan begitu banyak hikmah intan berlian. Ada pula yang hanya mengambil sebongkah batu karang. Mengapa bisa begitu berbeda?

Ini  adalah tentang rasa, tentang makna. Bukan keadaan apalagi raga.

Ini  bukanlah tentang hasil, namun tentang hikmah dan proses.

“Ya Allah… aku tak tahu ini anugerah atau musibah. Aku hanya berprasangka baik padaMu…”

hanya sebuah pelengkap tentang apa yang kita bahas minggu ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s