Syukur Sabar Hikmah

Hanya ingin berkisah. Tanpa bermaksud lain sama sekali. Hanya ingin membagi hikmah yang baru saja ku pungut.

Kembali soal takdir. Takdir. Sebuah kejadian tak akan pernah terjadi tanpa ijin Allah. Sebuah takdir yang menurutmu buruk. Belum tentu buruk. Karena Allah memberikan apa yang kau butuhkan. Bukan yang terbaik, apalagi yang kau inginkan. Allah hanya memberikan apa yang kau butuhkan untuk lebih bertaqwa lagi padanya.

Terkadang, saya sangat kesal pada diri ini. Yang selalu bertanya kenapa. “Kenapa saya?”, “Kenapa harus saya?”, “Kenapa harus begini ceritanya?”. Ketika semua yang buruk terjadi padaku. Padahal hal buruklah yang akan membuat kita semakin dewasa.

Sewaktu saya mendapat ranking 27 dari 45 anak. Syok sekali. Saya tak pernah lepas dari 10 besar sejak SD. Kini ranking 27. Aku pun jadi bertanya, “Kenapa aku dibiarkan masuk Belitung 8 ya Allah?”

Tapi ternyata disinilah semuanya dimulai. Saya bertemu dengan “jalan ini”. Bahkan terjebak karena mencintainya dan juga ingin dicintaiNya. Menyadari bahwa jalan ini adalah jalan yang panjang yang pangkalnya tidak terlihat sehingga tidak mungkin untuk kembali dan tak terlihat ujungnya sehingga tak tahu akan sampai ka[an berjuang.

Dan pada akhirnya aku pun hampa ketika jadi ranking 44 dari 49 anak dengan nilai Seni Musik 45 di rapot. Kebal dan mati rasa.

Di belitung 8 jualah. Dengan keceriaan seorang anak kelas 1 SMA, aku dihadapkan pada 3 harokah yang berusaha berebut pengaruh. Sakit sekali rasanya. Apalagi ketika melihat sahabat terdekatku sendiri berbeda. Rasanya sakit. Padahal dialah sahabat yang paling sahabat denganku. Berbagi dari makan-minum sampai berbicara masalah MotoGP, Bola dan politik. Semuanya kami NYAMBUNG. Sangat NYAMBUNG sekali. Dan ketika pergerakannya dijelek-jelekan dihadapannya, walau aku setuju, namun, aku pun merasakan sakitnya. Pernah ada seseorang yang menjelek-jelekan pergerakannya dihadapannya. Dia nya mah biasa aja, dan emang udah biasa. Tapi, yang marah dan menangis adalah aku. Love you so much sist…! Kenapa? Karena aku pun tak mau dia menjelekkan pergerakanku. Aku tak mau kita saling menjelekkan. Karena rasanya (seharusnya) sakit.

Di sini juga aku bertemu dengan Teteh mentor pertamaku. Teteh mentor yang selalu berhasil memuaskan gejolak akalku. Gejolak akal sang anak nakal. Kalau saja aku tidak bertemu dengan dia, mungkin saja, hari ini aku ada di barisan para anak nongkrong yang bisanya hanya keluar masuk mall. Itu sangat mungkin terjadi. Karena aku baru tahu sekarang, bahwa salah satu DS yang (relatif) paling stabil saat itu adalah DS SMAku, bahkan sampai saat ini. Hanya mengambil hikmah saja.

Di sini juga aku bertemu dengan sahabat-sahabat Al-Furqanku. yang sampai saat ini kamu masih saling mengingatkan. Walau sudah tak ada dalam wadah yang sama. Ada yang di TI ITB, Akuntansi UnPad, FKM UI dan aku sendiri IF ITT. Kamu masih saja merindu saat SMA. Sebuah Kisah Klasik.

Di sini juga aku bertemu dengan sebuah komunitas bernama ITSAR. Sebuah komunitas yang membuatku lebih tak bisa lepas dari “jalan ini”. Karena disanalah rumahku. Entah, aku diterima atau tidak sebagai penghuni rumah itu. Aku mengerti. Seseorang yang sempat gagal dalam kuliahnya pasti akan dipikir ulang untuk dilibatkan dalam Dakwah Sekolah. Aku sangat mengerti. Karena itulah kini aku memilih kampus. Selain juga karena sistem perkuliahan yang memang ajaib dan jarak. Saya paham, amanah dimanapun adalah sama. Tapi hatiku tetap untuk sekolah. Karena aku memulai semuanya disana. Seseorang akan bergerak dimana dia terkader. Begitulah.

Di komunitas ini aku bertemu dengan banyak orang hebat. Salah satuny adalah seorang kakak yang kakak banget. Maaf kalau aku jadi membandingkan kalian, kakak-kakakku dengan kakakku yang satu ini. Tapi, memang dia sungguh luar biasa. Entah mengapa, bila punya masalah, aku tak segan bercerita padanya. Dan, entah mengapa dengan pandangannya terhadap masalahku, aku jadi melihat masalahkku itu dari sudut yang lebih ringan.

Di sini juga aku sering merasa “ditinggal”. bahkan ditinggal oleh orang yang dahulunya selalu mengajakku. Melihat mereka gugur satu-per-satu, rasanya sakit.

dan kini… ketika temanku pergi satu-per-satu. Yang saya rasakan adalah kebal, mati rasa. Bukan karena tak cinta, tapi sudah terlalu sering.

Ketika aku terperosok dalam jurang keterpurukan setahun lalu. “Kalau memang ini bukan yang terbaik kenapa aku dibiarkan terpampang di koran dengan kode 253344?”

Tapi ternyata… hari ini aku sadar. Bahwa Allah hanya ingin aku menikmati elititas lebih lama. Setelah Belitung 8, kini Ganesha 10. Suasana dimana orang-orang yang studyholic, workaholic. Suasana kerja keras. Sadar betul untuk apa yang mereka lakukan. Baik yang apatis, maupun yang aktivis. Mereka punya alasan (apa karena memang pintar mencari alasan) mengapa mereka melakukan itu semua. Visinya jelas jauh ke depan. Bahkan ada mitos diantara anak Ganesha 10 sendiri, bahwa mereka bisa segalanya, kecuali bidang mereka. Sudah tak aneh seorang mahasiswa elektro, juga mengerti dasar-dasar ilmu kedokteran, ilmu ekonomi, bahkan ilmu sejarah dan sosiologi. Tak ada yang aneh dengan itu semua.

Di tempat ini, tak akan susah untuk menyuruh seseorang bergerak, jika akalnya sudah kita kuasai. Yaps. Sangat logika dan perhitungan. Harus jelas, untung rugi dari apa yang dikerjakan.

Jadi ketika kita bertanya pada mereka , “Mengapa kamu berdakwah?”

mereka akan menjawab, “Mencari ridho Allah. Dan bukankah Allah sudah membeli jiwa dan raga kaum muslim. Dan menjanjikan balasan berupa unta merah. “ (saya lupa redaksinya. tapi inilah yang diimingi oleh seseorang yang mau memberikan sebuah amanah.)

Dan masyarakat Indonesia yang elitis seperti itu berapalah banyaknya. Ketika di Telekomunikasi 1, aku menemui sebuah lingkungan yang sungguh realitas keadaan masyarakat Indonesia. Saya tahu kalian sudah cukup cerdas untuk mempersepsikannya. Saya takut salah komentar ah.

Intinya… Telekomunikasi sebenarnya adalah tempat yang sangat kondusif untuk kita belajar “memimpin masyarakat Indonesia”. Tinggal kita mau atau tidak mempelajari itu semua.

Mungkin ini yang menyebabkan sering kali, pemerintah kurang bisa mengatur rakyatnya. Karena mereka adalah putra-putri terbaik bangsa yang terbiasa dengan pergaulan elitis. Hanya mungkin saja.

Satu hal juga. Allah memberiku waktu untuk menikmati sebuah peradaban bernama Ganesha 7. Sebuah tempat yang sudah menjadi bagian hidupku. Bahkan sebelum aku ada.

Ada lagi…
tadinya tulisan saya itu banyak yang bilang kejam. Toh, mereka tetap menerima dan mengerti apa yang saya maksud.

Tapi ternyata… disini tidak bisa seperti itu. Terkadang sulit untuk menunjukan fakta yang ada pada manusia di sini. Sementara disana sudah jadi rahasia umum yang semuanya sudah tahu.
Disini aku harus lebih bisa menyajikan sebuah fakta dengan lebih sabar dan hati-hati. Seperti menerangkan masalah reproduksi pada anak SMP. Tentu akan berbeda dengan cara menerangkan masalah reproduksi pada anak kedokteran.

Aku juga bertanya “Ya Allah, apa lagi ini?”

Ternyata, aku dipertemukan oleh orang-orang hebat macam kalian semua. Hebat. Memang kalian tidak pernah berikan jawaban yang pasti. Hanya, kalian selalu temani aku. Tanpa pamrih. Dan karena kalian tak pernah berikan jawaban yang pasti. Akulah yang mencarinya lebih giat. Menguji kelapangan hati pada saudara seiman dengan semua kejadian yang “menurut saya” aneh.

mungkin, tidak akan pernah kalian mengganti mereka. Tapi kalian punya tempat sendiri di hatiku.
kini… aku mungkin tidak akan sering bertanya “kenapa?”. Bukan karena aku tak yakin ada hikmah yang harus kupungut. tapi karena aku yakin, dibutuhkan kesabaran untuk bersyukur. diperlukan kesyukuran untuk mengambil hikmah. juga dibutuhkan hikmah agar kita bersabar.

Percayalah. Dia memberikan apa yang kita butuhkan. Bukan apa yang terbaik apalagi apa yang kita mau. dalam segala hal. rezeki, nilai UTS, UAS, jodoh bahkan kematian. percayalah Allah sudah menentukan hasil yang tepat pada waktu yang tepat, yang bisa lakukan saat ini adalah menjemput semuanya dengan cara yang dicintaiNya. tidak mencontek, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak HTSan, tidak pacaran, juga tidak bunuh diri. (entah mengapa saya merasa redaksi bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita itu kurang tepat.)

perkataan yang diberikan soulmateku, Linda Studiyanti.

mungkin nggak nyambung ma judulnya. Tapi, ada unsurnya kok. Walaupun tidak bersenyawa.
seseorang_yang_merasa_bersalah_dan_berusaha_memperbaiki_diri.

180410 notesfb

One thought on “Syukur Sabar Hikmah

  1. seluruh kejadian yang menimpa seseorang pasti ada hikmahnya, baik yang menurut kita baik maupun buruk,tinggal kita bersyukur dan bersabar saja.“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan sungguh Allah apabila mencintai suatu kaum pasti akan memberi mereka cobaan, siapa yang ridha terhadap cobaan itu, maka baginya keridhaan Allah, akan tetapi siapa yang murka dengan cobaan itu, maka baginya kemurkaan-Nya. ” (HR.Tirmidzi)
    oh ya masalah redaksi “unta” di atas, lafazh begini”Demi Allah, seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaraanmu itu lebih baik bagimu dari unta merah. ” (HR.bukhari muslim)
    kenapa unta merah? karena itu harta yang paling berharga di zaman itu. kalo zaman sekarang mungkin BMW(hehehe) salam kenal mbak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s