Perempuan Berkalung Sorban

Harus berhati-hati membaca tulisan anak nakal ini.
Sudah ku bilang, aku ini anak nakal. Meskipun bukan berandal. Mengapa aku sebut diri ini anak nakal?
Karena aku masih menghujat kebijakan “langit” yang “aneh”. Walau aku paham betul, kalau aku berpikir itu “aneh” karena aku tidak mengerti.
Karena aku tak jarang berpetualang ke “jalan” orang, karena menurutku ilmu tak hanya bisa kita dapatkan di “jalan” ini. Walau sampai saat ini aku masih menjadikan “jalan” ini sebagai “tempat kembaliku”.
Karena aku masih menyukai pemikiran-pemikiran orang ammah, orang yang dikatakan “sesat”, orang-orang yang tidak mengenal islam bahkan orang kafir. Walau aku tahu, sebagai seorang umat Nabi Muhammad, hanya dia yang boleh kita tiru.
Sekali lagi, aku ini anak nakal. Namun, aku tetap bukan berandal.
Minggu, 20 September 2009. Jam 8 malam. Di SCTV, ada sebuah film. Judulnya, Perempuan Berkalung Sorban.
Ya… sudah kudengar semua kontroversi yang dibuat film ini. Sudah kudengar perdebatan tentang film ini. Bahkan dianjurkan untuk tidak ditonton oleh MUI. Anehnya, sang pemberi fatwa belum menonton film ini. Tanpa mengurangi rasa hormatku, tapi… karena aku ini anak nakal, keluarnya fatwa itu bertambahlah rasa penasaranku untuk tahu apa yang salah di film ini.
Kutontonlah film itu. Pada dasarnya, aku kurang suka cara Hanung mencitra. Dari Jomblo, AAC sampe PBS. Lebih suka caranya Riri Riza walau film-filmnya nggak ada yang bernafas islam. Dan, setahuku walau agamanya islam, tapi… fikrohnya sangat jauh. Bahkan seorang anak nakal seperti aku pun berani menilai seperti itu. Beda dengan Hanung yang memang hanif. Ya… tetep aja sih, nggak bisa dibandingi ma Deddy Mizwar.
Dan… ada beberapa hal yang perlu dikritisi di film ini.
Pertama, banyaknya adegan berdua-duaan antara Khudori dan Anisa. Dan ada dalilnya, pabila ada wanita dan pria berduaan, yang ketiganya adalah syetan. Walau sebenarnya itu bisa dimaklumi karena Khudori dan Anisa masih saudara jauh dan mereka adalah teman sepermainan, layaknya Fatimah dan Ali. Dalam budaya Indonesia, ini wajar, walau tetap tidak dapat dijadikan pembenaran.
Kedua, sangat terlihat pemikiran sang penulis begitu terkontaminasi oleh Pramoedya Ananta Toer. Meskipun aku belum baca buku-bukunya dia, previewnya aja nggak ngerti. Tapi dia adalah penulis besar yang identitas ideologinya diketahui banyak orang. Tidak perlu aku nyatakan di sini. Karena aku yakin kalian semua udah tau.
Di luar itu semua…
Menurut aku…. film ini bagus. TOP BGT. Di Indonesia, susah nyari film yang membuat kita berpikir. Sejauh ku tahu, diluar film-filmnya Riri Riza n Deddy Mizwar.Yang lain hanya menyajikan hiburan. Sebenernya masuk akal, kalo kita mau nonton, pasti kita mau film yang menghibur, mengangkat kita dari kepenatan hidup. Kalo di suruh mikir lagi, males.
Intinya, film ini itu mengkritisi tentang budaya di Indonesia yang masih menomorduakan perempuan. Tak lupa juga mengkritisi budaya pesantren yang mengekang pemikiran santri-santrinya, terutama santri perempuan. Terlihat begitu feminis, walau sama sekali tidak memojokkan laki-laki. Karena yang dikritisi di sini adalah budaya.
Tapi… sebenernya… ngeri juga sih kalo pemikiran yang masuk itu pemikiran yang masuk pesantren itu pemikirannya Pramoedya Ananta Toer. Mengingat PKI pun adalah pecahannya Sarekat ISLAM,, Walah, mahasiswa teknik apa mahasiswa sejarah sih gw,, Walau belum baca bukunya, karena merasa belum kuat iman. Tapi… kata orang yang bisa dipercaya sih pemikirannya “berbahaya”.
Tapi… ku pikir pemikiran penulis nggak begitu frontal karena seakan dia mau bilang kalau…
Perempuan ingin disamakan dengan laki-laki, bukan berarti perempuan tidak butuh laki-laki. Ini terlihat dari kata-kata Anisa yang menyatakan kalau dia membutuhkan Khudori.
Laki-laki tidak sama semua. Masih ada laki-laki keren macam Khudori. Dan bisa dibilang “AKU JATUH CINTA MA KHUDORI”. Bukan ma Oka Antara (suaminya Manohara,, gabruk dah!) ya. Secara noni, udah githu udah kawin lagi.
Aku belum pernah jatuh cinta ma karekter buatan sebegininya. Khudori adalah standar baruku untuk seseorang yang patut di kagumi. Seorang Fahri AAC pun tak mampu menarik hatiku layak ini. Fahri itu terlalu “langit”. Sedangkan Khudori, dia tidak melangit seperti Fahri,bahkan sangat jauh. Yang paling aneh darinya adalah dia teh lulusan Al-Azhar Kairo tapi ngasih referensi tulisan Pramoedya Ananta Tour. Di luar itu semua, dia itu laki-laki yang super duper sabar, romantis pula. Dia tahu cara menghadapi istri macam Anisa. Mendukung perjuangan istrinya setengah mati, karena memang fikroh mereka sekufu,, walah!!!! Bahasa mana pula itu,, Wawasannya luas lagi pandangannya jauh. Wa… KEREN LAH POKOKE. Bingunglah kenapa penulis MEMATIKAN dia diakhir cerita. Dan setelah Khudori meninggalpun Anisa masih bisa hidup dengan baik meski dia sangat kehilangan dan terpukul.
Apa penulis mau bilang, walau perempuan tetap butuh laku-laki tapi tanpa-tanpa laki-laki pun perempuan masih bisa bertahan?
Ada pemikiran lain?????

210909 notesfb

2 thoughts on “Perempuan Berkalung Sorban

  1. haha. beneran ngakak, emang oka antara sekarang suaminya manohara ya?
    (mamah aku di belakang bilang : bukan.. bukan.. suaminya mano bukan oka antara) gosip, gosip. kasian bener si mano.

    kasih tau aku ya, kalau udah nemu khudori nya. awas aja, jangan sampai aku tau dari orang lain.
    barakallah..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s