Andin dan Rasita

Bruk! Kubanting pintu kamarku. Andin yang sedang tertidur di tempat tidurku pun jadi terbangun.
“Nila, kau sudah pulang? Ada masalah ya?”
“Nggak da apa-apa kok. Cuman ulangan fisikaku aja kok jelek.”
“O…” lanjutnya tanpa bertanya.
“Bohong! Kamu sudah terbiasa dengan nilai-nilai fisikamu yang jeblok.”
Ini suara Rasita. Kejam. Namun, yang dikatakannya benar. Masalahku bukanlah ulangan fisikaku yang jelek.
“Siapa yang bohong?” aku berusaha mengelak.
“Rohis khan?”
Sepintar itukah Rasita menebak perasaanku? Atau aku yang tak pandai berbohong? Atau Andin yang terlalu mudah dibohongi?
Ku ceritakan semuanya.
“Apa yang perlu dibingungkan? Tinggal kembalikan semuanya ke Al-qur’an dan Al-Hadist.”
“Din, mereka semua pasti berbicara tentang keduanya. Tuhan mereka sama, nabi mereka sama, tujuannya pun sebenarnya sama. Hanya perbedaan cara. Aku pun tak mengerti mengapa mereka meributkan hal-hal kecil macam itu. Coba lihat kaum nasrani. Mereka tetap bersatu walaupun Tuhan mereka berbeda. Tuhannya beda, Din!”
“Tapi Ras, kita nggak bisa jalan sendiri. Amal jama’i itu penting.”
“Din, ketika kita masuk ke sebuah jamaah. Kamu akan melihat lain pada yang lain dan akan dilihat lain oleh yang lain. Sakit Din, rasanya!”
“Adakah sesuatu yang benar-benar bersifat netral di dunia ini? Air pun bersifat basa.”
Ah! Begitulah kerjaan mereka setiap hari. Bertengkar.
Tapi, kali ini kumenangkan Rasita.

Lain kesempatan…
Bruk! kembali kubanting pintu kamarku. Andin dan Rasita langsung menyambutku.
“Ada apa Nil?” tanya Rasita
“Aku kesel.”
“Pasti ada hubungannya dengan Rohis?” Rasita… Rasita…
“Nggak kok. Eh, ada sih.”
“Maksudnya?” Andin bingung.
“Sebenernya bukan soal Rohis, tapi masalah anggotanya.”
“Kenapa?” Andin kembali bertanya.
Kuceritakan semuaya.
“Loh, khan kamu bilang sendiri. Kalo mereka dah sobatan sejak kecil. Wajar donk, mereka sering berduaan.” Rasita memberikan komentar.
“Sahabat antara laki-laki dan perempuan tanpa rasa sama dengan bohong. Kamu berkali-kali diceritain ama orang-orang yang pernah ngalaminnya khan?” Kini Andin merobek habis argumen Rasita.
“Tapi Din, kalau kamu mengalaminya mungkin kamu akan melakukan hal yang lebih parah dari mereka.”
“Ras, Allah itu sudah mengukur kemampuan hambaNya. Dia sudah memberikan bekal yang lebih dari cukup untuk kita menghadapi dunia yang kotor ini.”
Kali ini aku memihak Andin.

Bayangkan bila Andin dan Rasita ada dalam dirimu sendiri. Andin yang selalu berkata benar namun tak pernah peduli perasaanku. Rasita yang memiliki analisis dan nalar yang kuat serta sangat memahami apa yang kurasa.
Walau mereka membuatmu pusing. Kau tak akan pernah bisa mengusir salah satu atau keduanya. Kalau kau mengusir Andin, kau tak kan hiraukan kebenaran yang datang padamu. Kalau kau mengusir Rasita, kau akan menerima apa yang dikatakan oleh Andin hanya sebatas doktrin. Kau harus mensyukuri kebingungan-kebingungan yang mereka buat dalam dirimu. Karena itu akan membawamu lebih dewasa.

160507ympfblogspot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s