Oleh: khadijahavicena | 10 Mei 2012

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Alangkah lucunya negeri ini…
Aku baru tahu seberapa lucunya negeri ini…
Dimana uang bisa membuat tumpul penegakan hukum…
Dimana kolektifitas berfungsi dengan sedemikian munafiknya…
Negeriku ini lucu sekali…
Sampai aku tak sanggup menangisi sesuatu yang pantas ditangisi…
Lelah menangis…
Sudah… Tertawakan saja…
Aku pun menyesali sebuah momen yang sebenernya bisa menjadi sangat lucu… namun pada kenyataannya ini jadi momen hening…
Ya. Momen manusia naïf yang bersih. AKU.
Ada sebuah percakapan dengan seorang dosen.
Dia begitu kecewanya dengan anak muridnya yang malah mencari yang melaporkan.
Kutanggapi wajar… “Biasa Pak. Di DPR juga kayak githu. Saya nggak kaget.”
Dan hening… namun aku begitu menyesali percakapan ini…
Seharusnya percakapan ini bisa menjadi sangat lucu…
“Saya heran kenapa kalian malah cari yang laporin sih?”
Dan kujawab santai… “Bapak udah berapa tahun jadi WNI pak?”
Ini pasti lucu sekali…
Dan tertawalah kita… menertawakan betapa lucunya negeri kita tercinta ini…

Siapapun kamu diujung sana…
Aku bersamamu… hanya saja…
aku sudah lelah dengan semua kemunafikan ini…
lelah… sampai rasanya ingin mati…

kata gie pun ada filsuf yang berkata bahwa… “Yang paling beruntung adalah tidak pernah dilahirkan. Kedua mati muda. Dan yang paling sial adalah mati tua”
Walau begitu aku tak mau mati…
Walau dengan mati kita akan tahu mana kebenaran… semua kebenaran dari apa yang kita imani… yang tak satu pun dari kita bisa menghakimi diri sendiri apalagi orang lain…
Aku tak mau mati…
Karena aku tetap ingin menikmati keindahan Awan… Awan yang melindungiku dari sinar matahari agar tak terlalu menyengat dia bersinar…

jadi kulupakan saja semua kemunafikan disekitarmu…
pasang kacamata kuda… anggap semua tak ada…
dunia munafik ini tidak ada…
Hanya ada aku dan Awan di atas langit sana…

Oleh: khadijahavicena | 24 April 2012

Hanya IMAN yang boleh tanpa alasan…

Hanya IMAN yang boleh tanpa alasan… CINTA tidak boleh…

 

Sebodoh apapun alasannya…

CINTA harus ada alasannya…

apakah itu karena fisik, intelijensia, atau sifat…

meski kau sulit tuk akui…

meskipun konyol jika dicerna pikir…

namun begitulah CINTA…

 

bohong kalau kau CINTA seperti IMAN… tanpa alasan…

karena akal manusia masih bisa menjangkau objek CINTA…

itu masih makhlukNya…

berspesies Homo sapiens… keturunan Adam dan Hawa… meski ada yang menyebut Adam dan Eva…

 

IMAN…

akal memang tidak akan pernah bisa menjangkau TUHAN…. objek dari IMAN…

karena TUHAN berbeda dengan makhlukNya…

Oleh: khadijahavicena | 18 Maret 2012

Cinta Tidak Butuh Tali

Cinta tidak butuh tali…

Kebenaran tidak butuh pembenaran…

Cinta akan tetap menjadi cinta…

Tanpa adanya tali…

Ikatan terhadap cinta…

Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran…

Tanpa adanya pembenaran…

Pembenaran terhadap kebenaran…

Cinta akan tetap menjadi sebesar cinta…

Bagi yang bisa merasakan…

Kebenaran akan tetap menjadi sebenar kebenaran…

Bagi yang bisa mengerti…

Jangan ikat cinta biarkan dia bebas…

Jangan benarkan kebenaran biarkan dia benar…

Oleh: khadijahavicena | 23 Februari 2012

Garpu Tala yang Mencari Resonansi

Aku garpu tala. Anggap saja aku punya mata melihat dan kaki untuk berjalan dan berlari. Untuk membantuku menceritakan semua yang kualami. Diluar itu aku hanya kumpulan atom Fe dengan atom-atom lain yang menjadikanku nyata. Aku bukan sel yang mempunyai mitokondria sehingga tak perlu oksigen untuk bernafas.

Aku garpu tala yang terus berjalan, kadang berlari, mencari resonansi. Resonansi, getaran yang sama. Dibutuhkan frekuensi yang sama. Frekuensi ditentukan oleh kesatuan bentuk, besar dan bahan. Tidak perlu sama, yang penting menghasilkan frekuensi yang sama.

Aku memulainya. Ku temukan sebuah garpu tala. Ceria sekali. Dia terus bergetar tiap ada garpu tala lain yang bergetar. Aku pun penasaran ingin mencoba. Aku bergetar. Dan dia hanya bingung melihatku bergetar. Dia tidak bergetar sama sekali. Aku terus bergetar. Namun, lama-lama dia yang tinggalkan aku. Bertualang mencari garpu tala lain yang bisa menggetarkannya. Aku mencari lagi.

Kini kutemukan garpu tala. Dia sendiri. Melihatku. Aku pun bergetar. Dia masih melihatku, tapi tak bergetar juga. Lama-lama ada setetes air mata yang mengalir. Aku tak mengerti apa artinya. Yang jelas setelah itu dia pergi.

Aku kembali mencari. Sudah 2 kali aku gagal. Kali ini aku tak akan sembarang bergetar. Kini kutemukan sebuah garpu tala. Ceria, namun tak bergetar tak juga ketika banyak garpu tala lain yang juga mencari resonansi. Sama denganku. Aku ingin tinggalkan. Tapi tak bisa. Aku masih penasaran. Namun, tak ingin dulu bergetar.

Ku tunggu, kubiarkan semua garpu tala yang mencoba menggetarkannya pergi. Kutunggu, kutunggu dan kutunggu. Entah apa yang membuatku sabar untuk terus menunggui semua garpu tala itu pergi. Dan semua garpu tala itu pergi. Tanpa ada yang berhasil menggetarkannya. Dia tidak melihatku. Hanya memang segara akan beranjak pergi. Entah apa, aku bergetar dan tak disangka dia pun bergetar. Dia mulai melihatku. Dan kami terus bergetar. Bersama.

Resonansi… hakikatnya adalah kesamaan frekuensi. Bukan masalah bagaimana kita mencari. Bagaimana kita temukan.

Oleh: khadijahavicena | 17 Februari 2012

Andai Pikir Bisa Taklukkan Rasa

Andai pikirku bisa taklukan rasa…

Aku tak perlu menjadi bodoh dan percaya pada katanya yang manis…

Andai pikirku bisa taklukan rasa…

Aku tak perlu merindukan seseorang yang tiada arti untukku…

Ada atau tidak adanya… tak juga berpengaruh…

malah lebih besar pengaruh ibu penjual nasi kuning yang tak pernah kukenal bahkan namanya…

Andai pikir bisa taklukkan rasa…

Aku tak perlu berjudi dengan hatiku sebagai taruhannya…

Hanya untuk seseorang sepertinya…

Cinta itu seperti Iman…

Seringkali ingin diingkari tapi tak bisa pungkiri keberadaannya…

Tak jua mengerti???

Baiklah… rasakan sendiri…

Rasanya yang sama denganku…

Iman yang sama denganku…

Cinta yang sama denganku…

Maka jangan salahkan orang yang beriman… bila dia beriman walau tiada bukti bahwa Tuhan ada secara partikel maupun gelombang…

Maka jangan salahkan orang yang mencinta… bila dia mencinta walau dia tahu bahwa yang dicintainya itu adalah suatu yang konyol… atau bahkan seorang sampah masyarakat tiada arti…

Karena pikirnya tahu ketiadaan arti… tapi hati tak mampu ingkari keberadaannya…

Dia berjudi dengan hati sebagai pertaruhannya…

Dia berjudi dengan hidup sebagai pertaruhannya…

Oleh: khadijahavicena | 12 Februari 2012

Adil

Berjudi itu dilarang…

Tapi, bukankah memang hidup adalah tak lain perjudian?

Perjudian terhadap apa yang kita ingin percayai…

Terhadap apa yang ingin kita cintai…

Hidup adalah perjudian…

Ada penjudi yang selalu beruntung…

Tuhan sepertinya sayang sekali padannya…

Ada pula penjudi yang selalu sial…

Apakah artinya Tuhan tak cinta padanya?

Aku tak berani menghakimi Tuhan…

Selalu? tidak selalu kupikir…

Setiap penjudi pasti memiliki massa menang dan massa kalahnya sendiri…

Hanya saja terkadang penjudi yang sering salah memandang sebuah kemenangan sebagai kekalahan…

Lalu mereka menyalahkan Tuhan atas apa yang mereka pikir sebagai salahNya…

Kalau semua harus terbalas di bumi…

Untuk apa ada surga dan neraka?

Biarkan Tuhan sebagai seadil-adilnya hakim…

Biarkan neraka sebagai seberat-beratnya hukuman…

Dan surga sebagai sebaik-baiknya imbalan….

Oleh: khadijahavicena | 3 Februari 2012

IMAN dan CINTA

Dulunya agak nggak ngerti kalau mbah tedjo bilang bahwa IMAN mirip dengan CINTA… karena saya hanya mengerti IMAN…

dan ternyata memang mirip. Dua-duanya anugrah yang setiap orang berbeda dalam menemukan dan merasakannya…

Penghakimannya pun mirip… banyak orang yang merasa paling benar untuk melakukan penghakiman atas keduanya…

Ketika ada seseorang yang berbeda perjalanannya dalam mencapai IMANnya… orang yang merasa pencariannya paling benar akan menghakimi…

begitu pula dengan CINTA… tidak bisakah kita bersyukur saja dengan IMAN dan CINTA yang kita dapat???

jika ada seseorang yang perjalanannya berbeda dengan kita… belum tentu pula yang ditemukannya akan berbeda…

Jadi bersyukur saja kita tidak perlu melakukan perjalanan menyakitkan yang sama dengan apa yang dia alami…

Jadi… kumohon… berhentilah menghakimi IMAN juga CINTA…

Oleh: khadijahavicena | 3 Februari 2012

Aku tidak Berubah

Saat beres-beres saya menemukan tulisan ini… seingat saya tulisan ini saya tulisan ketika saya SMA. Lupa kelas berapa.

Ketika “cinta” menyapa, tidak ada yang bisa menolak. Yang bisa kita lakukan adalah tidak memanggilnya…

Ketika “cinta” terlanjur tumbuh, tidak ada yang bisa menghentikan jaringan meristemnya untuk terus membelah. Yang bisa kita lakukan adalah tidak menyiram, tidak memupuk, sehingga tidak tumbuh subur.

Ketika CINTA pergi, tak akan ada yang bisa menahannya. Yang bisa kita lakukan adalah membuatnya nyaman.

Ketika CINTA mati, tak akan ada yang bisa menghidupkannya kembali. Yang bisa kita lakukan adalah tidak membunuhnya. Karena CINTA tidak akan pernah mati kecuali kita yang membunuhnya.

Dan inilah tulisan yang membuat saya kaget… saya emang udah begonoh dari SMA ternyata…

Menulis adalah pekerjaan hati. Bukan hanya bermodal analisis logis-emosional semata.

Ketika kita ingin menjadi kuat, tak perlu menjadi orang lain. Jadilah dirimu dengan usahamu sendiri. Karena tiap diri pastilah sempurna sebagai manusia dengan ketidaksempurnaannya.

Ketika kita takut membuat kontroversi, kebenaran akan dimonopoli. Ketika kebenaran dimonopoli, kita akan mudah dibodohi.

Bukan bikin kontroversi, mungkin lebih tepatnya berani mempertanyakan apa yang selama ini kita anggap benar. Anti monopoli kebenaran. Fine… Aku emang sudah seperti itu sejak dahulu. Salah jika ada orang yang menilaiku berubah.

Oleh: khadijahavicena | 20 Januari 2012

Aku

AKU 

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Sepenggal puisi Chairil Anwar. Angkuh dan Ironi. Itu adalah 2 kata yang bisa aku ucapkan untuk menginterpretasikan puisi ini.

Aku. Kata ganti yang dipakai Khairil Anwar. Penyair yang candu rokok itu dalam puisi fenomenalnya. Bayangkan jika kata gantinya saya. Akan terdengar lucu. Ya. Aku adalah tanda keangkuhannya.

Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang 

Biar peluru menembus kulitku 
Aku tetap meradang menerjang 

Dia menghargai begitu rendah arti dirinya sendiri. Binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Tapi, lalu memperlihatkan keteguhannya. Biar peluru menembus kulitnya, dia akan tetap menerjang.

Ironi. Binatang jalang yang tetap akan menerjang meski peluru menembus kulitnya. Tapi tetap menyiratkan keakuan.

Luka dan bisa kubawa berlari 
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi 

Lukanya akan dibawanya lari hingga mati rasa. Dan dia tidak peduli lagi karena dia merasa akan hidup 1000 tahun lagi.

Aku yang merasa tak berharga. Hancur. Namun tetap menerjang sampai aku tak lagi rasakan rasa sakit peluru yang menembus dadaku. karena aku ingin hidup 1000 tahun lagi.

Oleh: khadijahavicena | 14 Januari 2012

Guru bukan Dewa, Murid bukan Kerbau

Ada sebuah lelucon yang menurut saya cukup cerdas yang dipos di group kelasku.

Ketika Dosen dan Kita

DOSEN : Selalu benar.
KITA : Selalu salah.

• Jika DOSEN tetap pada pendapatnya, itu konsisten.
• Jika KITA demikian, itu keras kepala.

• Jika DOSEN berubah 2x pendapat, itu fleksibel.
• Jika KITA demikian, itu plin plan.

• Jika DOSEN bekerja lambat, itu teliti.
• Jika KITA demikian, itu bodoh.

• Jika DOSEN bekerja cepat, itu terampil.
• Jika KITA demikian, itu asal-asalan.

• Jika DOSEN lambat memutuskan, itu hati-hati.
• Jika KITA demikian, itu idiot.

• Jika DOSEN cepat mengambil keputusan, itu berani ambil resiko.
• Jika KITA demikian, itu gegabah.

• Jika DOSEN melanggar prosedur, berarti inisiatif.
• Jika KITA demikian, itu tidak tahu aturan.

• Jika DOSEN menyatakan : “Mudah” itu berarti optimis.
• Jika KITA demikian menyatakan : “Mudah” itu sok.

• Jika DOSEN sering keluar kampus, itu cari peluang.
• Jika KITA demikian, itu cari kesempatan.

• Jika DOSEN men-service atasan, itu loyalitas.
• Jika KITA demikian, itu menjilat.

• Jika DOSEN sering tidak masuk, itu kecapaian kerja keras.
• Jika KITA demikian, itu malas.

• Jika DOSEN membuat lelucon, itu humoris
• Jika KITA demikian, itu frustasi.

• Jika DOSEN mengirim joke ini ke KITA berarti peace
• Jika KITA nekat ngirim joke ini ke DOSEN berarti rest in peace

Saya adalah seorang yang besar di keluarga yang demokratis. Istri boleh mengkritik suami, anak boleh mengkritik orang tua, adik boleh mengkritik kakak. Begitu juga sebaliknya. Jadi, lelucon macam ini tidak menjadi sesuatu yang tabu dalam keluarga saya. Dan saya percaya dosen-dosen masa kini juga sudah banyak yang terbuka dan percayalah mereka juga pernah berada di posisi yang sama dengan kita. Mereka juga pernah jadi mahasiswa.

Tiba-tiba saja angan saya melayang ke kata-kata,

“Guru bukan dewa, murid bukan kerbau”

Kata-kata ini keluar dari seorang Tionghoa, saat itu dia masih SMP. Kira-kira 12-15 tahun. Ketika aku membacanya saat itu saya kelas 3 SMA, umur saya 17 tahun. Saat itu saya tidak mengerti betul apa artinya kata-kata itu. Tapi karena keren, jadi sampai 5 tahun setelah saya baca pun saya masih ingat kata-kata itu. Dan setelah saya mengerti apa artinya. Saya menjadi tidak mengerti, bagaimana bisa kata-kata se”keren” itu bisa keluar dari seorang anak SMP?

Guru bukan dewa (apalagi Tuhan). Dewa adalah sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan dan kekuasaan diatas seorang manusia. Dalam mitologi Yunani, ada dewi Athena yang merupakan dewi kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan. Dalam mitologi Romawi, ada dewi Minerva. (Wew… dewi loh… apakah sejak dahulu memang perempuan itu lebih pintar?)

Dewi Athena / Minerva

Meraka bisa tentukan kebenaran. Bisa menentukan pengetahuan mana yang akan dibocorkan pada manusia biasa. Dia bisa tentukan kebenaran. Ya. Mereka dewa yang punya kekuatan dan kekuasaan untuk itu.Mereka lebih dari manusia.

Dan guru tidak begitu. Mereka manusia. Yang sangat mungkin salah. Sangat mungkin untuk tidak sempurna. Yang menyebalkan memang ketika guru yang manusia ini belaga seperti dewa yang tidak mungkin salah. Juga seperti Athena dan Minerva, punya kekuasaan dan kekuatan untuk tentukan mana pengetahuan yang boleh diketahui oleh muridnya. Bisa tentukan kebenaran.

Dan murid bukanlah kerbau. Kerbau yang tiap hari dicucuk hidungnya agar mau membajak sawah. Kerbau yang harus disuapin makannnya. Kerbau yang ketika salah harus di pecut agar tahu bahwa dia salah.

Kami, para murid adalah manusia, para pembelajar kehidupan, bukanlah kerbau. Kami manusia yang butuh diperlakukan sebagai makhluk cerdas yang bisa melakukan proses pembelajaran.

Jadi…

“Guru manusia, murid manusia”

Yang sama-sama belajar. Yang sama-sama bisa melakukan kesalahan. Yang sama-sama tidak berhak menentukan kebenaran. Yang sama-sama tidak bisa menentukan siapa yang berdosa akan sebuah kesalahan.

So… maaf dan terimakasih untuk para pahlawan tanpa tanda jasa “in collegio”.

Satu yang perlu kita ingat dewi pengetahuan itu sudah mati. Tergantikan oleh manusia-manusia penuntut ilmu. Saya tidak berbicara tentang Tuhan, tapi Dewa. There’s about gods not God.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.